Sunday, November 09, 2008

Proses oksigen (O2) dari atmosfer sampai dengan masuk ke dalam sel

Author : Luzni Novita
NPM : 220111080046

Sel tubuh, paru-paru dan sel darah terlibat dalam pengiriman oksigen sampai dengan sel. Oksigen dibawa oleh darah dalam bentuk oxyhemoglobin,yang terbentuk saat pernafasan dimana oksigen terikat dengan komponen heme yaitu protein dari hemoglobin dari sel darah merah [erythrocyte].O2 yang terikat dengan Fe2++ dalam heme,selanjutnya masuk ke dalam sel dan digunakan untuk aerobic glycolysis untuk memproduksi ATP melalu proses oxidative phosfoliration.Selama proses tersebut,electron-elektron ditransfer dari electron donor,ke electron acceptor,seperti oksigen dalam reaksi redox [oksidasi dan reduksi].

Udara di hirup melalui hidung -à masuk ke paru-paru lewat trachea -àudara disebarkan ke seluruh paru-paru -àudara yang mengandung O2 diserap oleh darah, setelah melewati membrane tipis di paru-paru -à O2 dibawa ke jantung lewat arteri dan cabangnya ke organ lain dan jaringan tissue -àpada saat darah kandungannya tidak ada O2, dia akan membawa carbonic acid yang diproduksi saat oxidasi dan pembakaran sisa, kemudian dibawa lagi ke paru-paru (termasuk zat yang bersifat poison), dan dikeluarkan lewat exhaled breath. (Philosophy and practice based on the unity of disease and cure book, by Henry Lindlahr.)

a.Ventilasi paru
Yaitu proses masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau sebaliknya. Ventilasi dapat terselenggara kalau arus udara ke dan dari alveoli melalui saluran napas, lancar. Arus udara ini kecuali ditentukan oleh isi paru, juga ditentukan tekanan yang menimbulkan aliran, dan tahanan saluran napas. Tekanan yang menimbulkan aliran ada dua macam, yaitu tekanan oleh kontraksi otot pernapasan dan tekanan daya lenting jaringan paru. Kedua tekanan tadi dilawan oleh tahanan saluran nafas. Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan antara udara atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun dan volume paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.

Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
1) Tekanan udara atmosfer
2) Jalan nafas(harus bersih dari segala sumbatan)
3) Compliance dan recoilCompliance paru-paru merupakan indikasi kemampuan perluasan paru-paru, bagaimana paru-paru dengan mudahnya mengembang dan mengempis. Semakin rendah compliance, semakin besar gaya yang dibutuhkan untuk mengisi dan mnegosongkan paru-paru. Semakin besar compliance, semakin mudah bagi paru-paru, semakin mudah paru-paru untuk mengisi dan mengosongkan paru-paru. Adapun Faktor yang mempengaruhi :
a). Struktur jaringan penghubung dari paru-paru. Kehilangan jaringan penghubung menghasilkan kerusakan alveolar, seperti pada emfisema, yang meningkatkan compliance
b). Produksi surfaktan, pada saat ekshalasi, alveoli yang kolaps karena produksi surfaktan yang tidak mencukupi, seperti pada respiratory distress syndrome, mengurangi compliance paru-paru
c). Mobilitas rongga toraks, arthritis atau kelainan skelet lainnyamempengaruhi artikulasi rusuk atau kolom spinal juga mengurangi compliance.

4) Kontrol pusat pernafasan
Pusat respirasi merupakan sekelompok neuron yang tersebar luas dan terletak bilateral di dalam substansia retikularis medula oblongata dan pons. Pusat respirasi dibagi menjadi DRG (Dorsal Respiratory Group) yang berfungsi pada seluruh proses respirasi normal, dan VRG (Ventral Respiratory Group) yang berfungsi saat bernapas dengan kuat, yaitu saat inhalasi maksimal dan ekshalasi aktif.


b. DifusiYaitu berpindahnya partikel-partikel gas dari alveoli ke dalam sel darah merah(O2) atau dari dalam sel darah merah ke alveoli (CO2). Dan juga dari dalam sel darah merah ke dalam sel-sel jaringan (O2) dan dari dalam sel jaringan ke dalam sel darah merah (CO2). Di dalam tubuh, kecepatan difusi bergantung kespada beberapa hal, di antaranya ialah :

1) Selisih tekanan bagian masing-masing gas yang berdifusi diantara kompartemen-kompartemen.
Gas berdifusi dari tempat yang tekanan bagiannya tinggi, ke tempat yang tekanan bagiannya rendah. Untuk oksigen, dari alveoli ke darah dan kemudian ke sel jaringan. Tekanan bagian oksigen di jaringan selalu rendah karena oksigen yang sampai ke jaringan dipakai untuk pembakaran. Dalam proses pembakaran di dalam sel, karbondioksida selalu terbentuk sehingga tekanan bagian CO2 di dalam sel tinggi, dan ini dikeluarkan dengan proses difusi. Jadi CO2 berdifusi dari sel jaringan ke darah, kemudian ke alveoli.

2) Jarak yang harus ditempuh oleh partikel yang berdifusi.
3) Sifat membran dan daya larut partikel yang akan berdifusi di dalam membrane.
4) Luas permukaan difusi.
Butir (2), (3), dan (4) menentukan juga kapasitas difusi. Untuk memeriksa kapasitas difusi, biasanya perlu diperiksa konsumsi oksigen, curah CO2, RQ (Respiratory Quotient) serta kapasitas difusi sendiri dengan menggunakan gas O2 dan gas CO2. (sumber : Uji faal Paru oleh dr. V. Sutarmo Setiadji, dr.Busjra M. Nur, dr. B. Gunawan, Fakultas Kedokteran Indonesia).


c. Transportasi Gas
Yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh dan sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler. Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.Larutan plasma dengan CO2 berikatan dengan Hb [30%] membentuk carbaminohemoglobin.Larutan dalam plasma berikatan dengan H2O sebagai HCO3 [65%].

Faktor-faktor yang mempengaruhi:
a. Curah jantung (cardiac Output / CO)b. Kondisi pembuluh darahc. Erytrocyte[Hb]d. Latihan (exercise)

No comments: