Friday, December 26, 2008

keperawatan payudara pada Ibu hamil

Author : RINTA DEWI B.
NPM : 220111080045

Perawatan payudara selama kehamilan anda adalah salah satu bagian penting yang harus anda perhatikan sebagai persiapan untuk menyusui nantinya. Saat kehamilan payudara akan membesar dan daerah sekitar putting akan lebih gelap warnanya dan juga lebih sensitive. Semua ini terjadi untuk persiapan tubuh ibu hamil untuk memberikan makanan pada bayinya kelak.

Beberapa tips perawatan payudara selama kehamilan:

.Bila BH anda sudah mulai terasa sempit, sebaiknya mengantinya dengan bh yang pas dan sesuai dengan ukuran anda untuk memberikan kenyamanan dan juga support yang baik untuk payudara anda.

.Bila anda berencana untuk menyusui anda dapat memulai menggunakan bh untuk menyusui pada akhir kehamilan anda. Pilihlah bh yang ukurannya sesuai dengan payudara anda, memakai bh yang mempunyai ukuran yang tidak sesuai dengan ukuran payudara dapat menyebabkan infeksi seperti mastitis ( suatu infeksi pada kelenjar susu di payudara).

.Persiapkan putting susu anda. Dengan lembut putar putting antara telunjuk dan ibu jari anda sekitar 10 detik sewaktu anda mandi.
Jika anda mendapatkan kesulitan atau puting susu anda rata atau masuk kedalam, konsultasikan ke dokter anda, sehingga hal ini dapat diatasi dini untuk mencegah kesulitan nantinya.

.Pada tahap akhir bulan kehamilan, cobalah untuk memijat lembut payudara didaerah yang berwarna gelap (aerola) dan puting susu, anda mungkin akan mengeluarkan beberapa tetes kolustrum (cairan kental berwarna kekuningan dari putting). Untuk membantu membuka saluran susu.

.Bersihkan payudara dan puting, jangan mengunakan sabun didaerah putting dapat menyebabkan daerah tersebut kering. Gunakan air saja lalu keringkan dengan handuk.

BED SIDE CLINIC ON PERTUSSIS

AUTHOR : LUZNI NOVITA
NPM : 22011180046

1. Personal Information
  • Name : xxxx
  • Age : 2,5 months
  • Sex : Male
  • DOA : 10 - 9 - 2006
  • Diagnosis : Pertusis
  • Nationality : K


2. Family History
Both parents are alive, they are middle class family.
Father is working in defence, living in Jahra.
Mother is a house wife.
Patient has 2 sisters and one brother. Parents are young. They have no known history of any cronic ilness like diabetics, heart disease, hypertension or blood disorder. Child has normal milestares up to the age. His birth weight was 3 kg. He was born in a full term normal delivery.

3. Past Medical History
Child was admitted in J hospital on 10 - 9 - 2006 at 2 am for fever and cough. No chronic ilness noted.

4. Immediate Care Given
A baby got admitted in IDH, pediatric ward on 10 - 9 - 2006 at 11 am with chief complaints of paroxysmal cough and fever since 2 weeks.
Provisionally diagnosed as ? pertussis.
Placed a child in a comfortable position to promote easier ventilation. Orientation given to parents about calling system bell, visiting time, ward set up etc.
Health teaching given about strict isolation to prevent cross infection. Instruction given to the mother not to go others room, wash the hands before and after giving feed.
Explained about vaccination schedule and how to take care of baby. Reassure the parents.
Vital sign monitor and recorded, temperature 38.5 degree celcius, pulse 140/minute, respiration rate 42/minute.
Adol drops one dropper given, cold compress applied. Oxygen by mask, suction machine, pulse oxymeter kept ready in the room. oxygen saturation 100% in room air. Child is taking artificial feeding S26 and breast feed. O2 by mask 4 litres/mnt given when the child become cyanosis.

INVESTIGATION
CBC : WBC - 30.1/L
Lymph - 74.5%
Platelets - 783/L
Hb - 783/L
RFT : K - 5.57 mmol/ L
Na - 138.9 mmol/L
Glucose - 4.8mmol/L
Urea - 3.5 mmol/L
Creatine - 58mmol/L
Albumin - 42 g/L

5. On Going Treatment
Child had thick secretion, suction done to clear air way.
IV fluid of dextrose 5% with 0.225% normal saline started at the rate of 5 drops/ minute.
Injection Rocephin 500mg iv given after skin test negative as an antibiotic. Ventolin nebulization 0.2ml with atrovent 10 drops with normal saline 2 ml every 6 hourly, as prophylatic treatment.
Tuscalman suppository 1 x 2 administered per rectum to reduce secretion.


6.NURSING CARE RENDERED
1.Identification problem : Difficulty in breathing ( RR 50/mnt)
Objectives : The patient is relieved of dyspnoea and to maintain normal breathing.
Nursing intervensions :
- Asses vital signs 1 hourly
- O2 by mask 4 litre/ mnt as ordered.
- Keep the patient comfortable with semi sitting position
- Monitor O2 saturation 8 hourly as docter order.
- Observe the colour of lips, mucosa and nail beds for cyanosis.

2.Identification problem : Paroxysmal cough
Objectives : Patients is relieved from discomfort due to cough
Nursing intervension :
- Hold the baby in prone position with the head elevated.
- Do suction gently if needed.
- Maintain cough chart
- Observed the characteristic and duration of cough.
- Administer medicine as ordered.
- During nebulization hold the baby in sitting position.

3.Identification problem : Elevared temperature (temperature 38.5 C)
Objectives: The patient is relieved of hyperpyrexia and to maintain normal body temperature.
Nursing intervensions :
- Asses temperature, pulse, respiration regularly.
- Increased fluid intake.
- Apply cold compress or tepid sponging.
- Keep patient dry and comfortable.
- Berikan adol drops as order.

4.Identification problem: Knowledge deficit of parents.
Objectives: Parents will verbalise understanding of disease and homecare measure
Nursing interventions:
- Asses readiness, level of understanding and current knowledge of illness
- Provide environtment, conducive to learning.
- Explain disease process as simply as possible.
- Inform parents treatment regimen.

7.Out come of care and present health status
Child was in the hospital 5 days. First day child was crying,irritable and noted 18 times cough. Child become dyspnoeic after cough, O2 by mask given 4 litre/mnt. Suction done, when there was thick secretion nebulization was getting every 6 hourly. Feeds taken and tolerated. Day by day condition of the child was improved.

8.Difficulties while rendering planned care
While giving adol drops child spitted out the medicine twice., the patient is infant, child is unable to expectorate the secretion. While giving nebulization child is irritable and moving too much.So proper positioning is not achieved.

catatan : pasien diambil dari rumah sakit Infectious Diseases ruang anak tempat penulis bekerja.

BATUK EFEKTIF DAN NAPAS DALAM

Pengertian
Batuk efektif : merupakan suatu metode batuk dengan benar, dimana klien dapat menghemat energi sehingga tidak mudah lelah dan dapat mengeluarkan dahak secara maksimal.

Tujuan:

Batuk efektif dan napas dalam merupakan teknik batuk efektif yang menekankan inspirasi maksimal yang dimulai dari ekspirasi , yang bertujuan :
a) Merangsang terbukanya system kolateral.
b) Meningkatkan distribusi ventilasi.
c) Meningkatkan volume parud) Memfasilitasi pembersihan saluran napas
( Jenkins, 1996 )

Batuk Yang tidak efektif menyebabkan :
1) Kolaps saluran nafas
2) Ruptur dinding alveoli
3) Pneumothoraks

Indikasi

Dilakukan pada pasien seperti :
COPD/PPOK, Emphysema, Fibrosis, Asma, chest infection, pasien bedrest atau post operasi

I. Latihan Pernafasan

Tujuan latihan pernafasan adalah untuk:
1.Mengatur frekuensi dan pola napas sehingga mengurangi air trapping
2.Memperbaiki fungsi diafragma
3.Memperbaiki mobilitas sangkar toraks
4.Memperbaiki ventilasi alveoli untuk memperbaiki pertukaran gas tanpa meningkatkan kerja pernapasan.
5.Mengatur dan mengkoordinir kecepatan pernapasan sehingga bernapas lebih efektif dan mengurangi kerja pernapasan

A. Pernafasan Diafragma

•Pemberian oksigen bila penderita mendapat terapi oksigen di rumah.
•Posisi penderita bisa duduk, telentang, setengah duduk, tidur miring ke kiri atau ke kanan, mendatar atau setengah duduk.
Penderita meletakkan salah satu tangannya di atas perut bagian tengah, tangan yang lain di atas dada.
Akan dirasakan perut bagian atas mengembang dan tulang rusuk bagian bawah membuka. Penderita perlu disadarkan bahwa diafragma memang turun pada waktu inspirasi. Saat gerakan (ekskursi) dada minimal. Dinding dada dan otot bantu napas relaksasi

•Penderita menarik napas melalui hidung dan saat ekspirasi pelan-pelan melalui mulut (pursed lips breathing), selama inspirasi, diafragma sengaja dibuat aktif dan memaksimalkan protrusi (pengembangan) perut.
Otot perut bagian depan dibuat berkontraksi selama inspirasi untuk memudahkan gerakan diafragma dan meningkatkan ekspansi sangkar toraks bagian bawah.
Selama ekspirasi penderita dapat menggunakan kontraksi otot perut untuk menggerakkan diafragma lebih tinggi. Beban seberat 0,5 - 1 kg dapat diletakkan di atas dinding perut untuk membantu aktivitas ini

B. Pursed lips breathing

•menarik napas (inspirasi) secara biasa beberapa detik melalui hidung (bukan menarik napas dalam) dengan mulut tertutup
•kemudian mengeluarkan napas (ekspirasi) pelan-pelan melalui mulut dengan posisi seperti bersiul

•PLB dilakukan dengan atau tanpa kontraksi otot abdomen selama ekspirasi
•Selama PLB tidak ada udara ekspirasi yang mengalir melalui hidung
•Dengan pursed lips breathing (PLB) akan terjadi peningkatan tekanan pada rongga mulut, kemudian tekanan ini akan diteruskan melalui cabang-cabang bronkus sehingga dapat mencegah air trapping dan kolaps saluran napas kecil pada waktu ekspirasi

C. Lower Side Rib Breathing

•Letakkan kedua tangan di bagian bawah kedua rusuk
•Tarik nafas dalam dan pelan, sehingga tangan terasa maju kedepan
•Keluarkan nafas secara pelan melalui mulut(pursed lips breathing) sehingga tangan terasa kembali pada posisi semula.Istirahat

D. Lower Back and Ribs Breathing

•Duduk di kursi, Letakkan kedua tangan di punggung, tahan dan luruskan punggung
•Tariklah nafas dalam dan pelan sehingga rongga rusuk belakang mengembang
•Tahan kedua tangan, keluarkan nafas secara pelan

E. Segmental Breathing

•Letakkan tangan pada kedua bagian rusuk bawah
•Tarik nafas dalam dan pelan, konsentrasikan kepada bagian kanan rusuk dan tangan mengembang
•Pastikan/usahakan bagian rongga rusuk/tangan kanan mengembang lebih besar dibandingkan dengan bagian kiri
•Tahan tangan, keluarkan nafas secara perlahan dan rasakan rongga rusuk/kanan yang mengembang kembali seperti semula Ulangi, dan lakukan sebaliknya untuk bagian kiri sama seperti tehnik diatas

KEGUNAAN LATIHAN NAFAS

•Latihan Nafas Dalam Untuk mengurangi Rasa Nyeri Postsurgical Deep Breathing/Nafas dalam setelah Operasi
Latihan Nafas Dalam Untuk Mengurangi Rasa Nyeri

•Pasien tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk (semifowler) dengan lutut ditekuk dan perut tidak boleh tegang.
• Letakkan tangan diatas perut
•Hirup udara sebanyak-banyaknya dengan menggunakan hidung dalam kondisi mulut tertutup rapat.
• Tahan nafas beberapa saat (3-5 detik) kemudian secara perlahan-lahan, udara dikeluarkan sedikit demi sedikit melalui mulut.
• Lakukan hal ini berulang kali (kurang lebih 15 kali)
• Lakukan latihan dua kali sehari praopeartif.

Postsurgical Deep Breathing/Nafas dalam setelah Operasi

Cara latihan napas dalam pasca operasi :
•Duduk di sudut tempat tidur atau kursi, juga dpat berbaring terlentang dengan lutut agak ditekukkan.
•Pegang/tahan bantal atau gulungan handuk pada bagian yang terdapat luka operasi dengan kedua tangan
•Bernafaslah dengan normal
•Bernafaslah dengan dalam melalui hidung, Rasakan lambung menekan keluar ketika bernafas
•Lipatkan bibir seperti meniup lilin
•Kemudian tiupkan perlahan melalui mulut, rasakan dada menurun ketika mengeluarkan nafas
•Istirahat untuk beberapa saat
•Ulangi tindakan diatas beberapa kali

II. Latihan Batuk/Batuk Efektif

•Huff Coughing adalah tehnik mengontrol batuk yang dapat digunakan pada pasien menderita penyakit paru-paru seperti COPD/PPOK, emphysema atau cystic fibrosis. Postsurgical Deep Coughing

Huff Coughing

•Untuk menyiapkan paru-paru dan saluran nafas dari Tehnik Batuk huff, keluarkan semua udara dari dalam paru-paru dan saluran nafas. Mulai dengan bernafas pelan. Ambil nafas secara perlahan, akhiri dengan mengeluarkan nafas secar perlahan selama 3 – 4 detik.
•Tarik nafas secara diafragma, Lakukan secara pelan dan nyaman, jangan sampai overventilasi paru-paru.Setelah menarik nafas secara perlahan, tahan nafas selama 3 detik, Ini untuk mengontrol nafas dan mempersiapkan melakukan batuk huff secara efektif

•Angkat dagu agak keatas, dan gunakan otot perut untuk melakukan pengeluaran nafas cepat sebanyak 3 kali dengan saluran nafas dan mulut terbuka, keluarkan dengan bunyi Ha,ha,ha atau huff, huff, huff. Tindakan ini membantu epligotis terbuka dan mempermudah pengeluaran mucus.
•Kontrol nafas, kemudian ambil napas pelan 2 kali.
•Ulangi tehnik batuk diatas sampai mucus sampai ke belakang tenggorokkan
•Setelah itu batukkan dan keluarkan mucus/dahak

Postsurgical Deep Coughing

Step 1 :
•Duduk di sudut tempat tidur atau kursi, juga dapat berbaring terlentang dengan lutut agak ditekukkan.
•Pegang/tahan bantal atau gulungan handuk terhadap luka operasi dengan kedua tangan
•Bernafaslah dengan normal

Step 2 :
•Bernafaslah dengan pelan dan dalam melalui hidung.
•Kemudian keluarkan nafas dengan penuh melalui mulut, Ulangi untuk yang kedua kalinya.
•Untuk ketiga kalinya, Ambil nafas secara pelan dan dalam melalui hidung, Penuhi paru-paru sampai terasa sepenuh mungkin.

Step 3 :
•Batukkan 2 – 3 kali secara berturut-turut. Usahakan untuk mengeluarkan udara dari paru-paru semaksimalkan mungkin ketika batuk.
•Relax dan bernafas seperti biasa
•Ulangi tindakan diatas seperti yang diarahkan.

PENGKAJIAN SISTEM PERNAFASAN

A. KELUHAN UTAMA :
•Batuk (Cough)
•Peningkatan Produksi Sputum
•Dyspnea
•Hemoptysis
•Chest Pain

B. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU

•Riwayat merokok
•Pengobatan saat ini dan masa lalu
•Alergi
•Tempat tinggal

C. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA

•Penyakit infeksi tertentu : khususnya tuberkulosa
•Kelainan alergis, seperti asthma bronchial

REVIEW SYSTEM (Head to Toe)

a. Inspeksi
Kelainan pada bentuk dada :
•Barrel Chest
•Funnel Chest (Pectus Excavatum)
•Pigeon Chest (Pectus Carinatum)
•Kyphoscoliosis

b. Palpasi

c. Perkusi
Suara perkusi normal :Resonan (Sonor) :
•bergaung, nada rendah. Dihasilkan pada jaringan paru normal
•Dullness : dihasilkan di atas bagian jantung atau paru
•Tympany : musikal, dihasilkan di atas perut yang berisi udara

Suara Perkusi Abnormal :
a.Hiperresonan : bergaung lebih rendah dibandingkan dengan resonan dan timbul pada bagian paru yang abnormal berisi udara.
b.Flatness : sangat dullness dan oleh karena itu nadanya lebih tinggi. Dapat didengar pada perkusi daerah paha, dimana areanya seluruhnya berisi jaringan.

d. Auskultasi

•Merupakan pengkajian yang sangat bermakna, mencakup mendengarkan suara nafas normal, suara tambahan (abnormal).
Suara nafas normal dihasilkan dari getaran udara ketika melalui jalan nafas dari laring ke alveoli, dengan sifat bersih

Suara nafas normal :

a) Bronchial
b) Bronchovesikular
c) Vesikular
d) Wheezing
e) Ronchi
f) Pleural friction rub
g) Crackles
. Fine crackles
. Coarse crackles

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Proses Ventilasi
1. Bersihan Jalan nafas tidak efektif

Proses Difusi
2. Kerusakan pertukaran gas

Proses Transprtasi Gas
3. Pola nafas tidak efektif

Lain-lain
4. Intoleran Aktifitas
5. Penurunan Curah Jantung
6. Risiko terhadap aspirasi

PERENCANAAN

1.INTERVENSI UMUM
•Posisi
•Kontrol lingkungan
•Aktivitas dan Istirahat
•Oral hygiene

2. TERAPI RESPIRASI

a.Memfasilitasi Batuk Efektif dan Nafas Dalam
b.Fisioterapi Dada/Chest Physiotherapy
c.Oksigen

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN DAN EVALUASI

Implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi dan evaluasi dilakukan sesuai tujuan dan kriteria termasuk di dalamnya evaluasi proses.

Tuesday, December 23, 2008

TERAPI OKSIGEN

Terapi Oksigen

Daftar isi

AUTHOR : VEFI AGUSTIN
: LUZNI NOVITA
Bab I: Pendahuluan
• Definisi Terapi Oksigen
• Tujuan dan Manfaat Terapi Oksigen
Bab II: Tinjauan Pustaka Daftar Pustaka
• Landasan Teori
• Pengkajian
• Perencanaan
• Indikasi
• Kontra Indikasi
Bab III: Pembahasan
• Implementasi
• Evaluasi
Bab IV : Pembahasan
Bab V : Daftar Pustaka

Bab I PENDAHULUAN
Oksigen merupakan salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh.
Secara normal elemen ini di peroleh dengan cara menghirup udara ruangan dalam setiap kali bernafas.
Penyampaian oksigen ke jaringan tubuh di tentukan oleh interaksi system respirasi, kardiovaskuler dan keadaan hematologis.
Adanya kekurangan oksigen di tandai dengan keadaan hipoksia yang dalam proses lanjut dapat menyebabkan kematian jaringan bahkan dapat mengancam kehidupan.
Klien dalam situasi demikian mengharapkan kompetensi perawat dalam mengenal keadaan hipoksemia dengan segera untuk mengatasi masalah.
Pemberian terapi oksigen dalam asuhan keperawatan memerlukan dasar pengetahuan tentang factor-faktor yang mempengaruhi masuknya oksigen dari atmosfer sampai ke tingkat sel melalui alveoli paru dalam proses respirasi, berdasarkan hal tersebut maka perawat harus memahami indikasi pemberian oksigen, metode pemberian oksigen dan bahaya-bahaya pemberian oksigen.

Definisi
Oksigenasi adalah memberikan aliran gas oksigen (O2) lebih dari 21 % pada tekanan 1 atmosfir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh.
Tujuan dan Manfaat
1. Untuk mempertahankan oksigen yang adekuat pada jaringan
2. Untuk menurunkan kerja paru-paru
3. Untuk menurunkan kerja jantung

Bab II TINJAUAN PUSTAKA
Landasan Teori

ANATOMI SISTEM PERNAPASAN
A. Saluran Nafas Atas
1. Hidung
2. Faring
3. Laring
4. Trakea
B. Saluran Nafas Bawah
1.Bronkus
2.Bronkiolus
3.Bronkiolus Terminalis
4.Bronkiolus Respiratori
5.Duktus alveolar dan Sakus Alveolar
6.Alveoli
C. Paru
D. Pleura

IV. FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN
Bernafas / pernafasan merupkan proses pertukaran udara diantara individu dan lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang (ekspirasi).
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1. Ventilasi yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau sebaliknya.
Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan antara udara atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun dan volume paru bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat

2. Difusi yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveolus dan kapiler paru-paru.
Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini kadang disebut membran respirasi.
Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran respirasi sangat mempengaruhi proses difusi.
Secara normal gradien tekanan oksigen antara alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a. Luas permukaan paru
b. Tebal membran respirasi
c. Jumlah darah
d. Keadaan/jumlah kapiler darah
e. Afinitas
f. Waktu adanya udara di alveoli

3. Transpor yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh dan sebaliknya karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.
Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen akan berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :
a. Curah jantung (cardiac Output / CO)
b. Jumlah sel darah merah
c. Hematokrit darah
d. Latihan (exercise)

V. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERNAPASAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi adalah :
1.Tahap Perkembangan
2.Lingkungan
3.Gaya Hidup
4.Status kesehatan
5.Narkotika
6.Perubahan pola nafas
7.Obstruksi jalan nafas

PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang :
1. Biodata pasien (umur, sex, pekerjaan, pendidikan)
2. Keluhan utama dan riwayat keluhan utama (PQRST)
3. Riwayat perkembangan
a.Neonatus : 30 - 60 x/mnt
b.Bayi : 44 x/mnt
c.Anak : 20 - 25 x/mnt
d.Dewasa : 15 - 20 x/mnt
e.Dewasa tua : volume residu meningkat, kapasitas vital menurun
4.Riwayat kesehatan keluarga
5.Riwayat sosial
6.Riwayat psikologis

Disini perawat perlu mengetahui tentang :
a. Perilaku / tanggapan klien terhadap masalahnya/penyakitnya
b. Pengaruh sakit terhadap cara hidup
c. Perasaan klien terhadap sakit dan therapi
d. Perilaku / tanggapan keluarga terhadap masalah/penyakit dan therapi



7. Riwayat spiritual
8. Pemeriksaan fisik

a. Hidung dan sinus
Inspeksi : cuping hidung, deviasi septum, perforasi, mukosa (warna, bengkak, eksudat, darah), kesimetrisan hidung.
Palpasi : sinus frontalis, sinus maksilaris
b. Faring
Inspeksi : warna, simetris, eksudat ulserasi, bengkak
c. Trakhea
Palpasi : dengan cara berdiri disamping kanan pasien, letakkan jari tengah pada bagian bawah trakhea dan raba trakhea ke atas, ke bawah dan ke samping sehingga kedudukan trakhea dapat diketahui.
d. Thoraks
Inspeksi :
• Postur, bervariasi misalnya pasien dengan masalah pernapasan kronis klavikulanya menjadi elevasi ke atas.
• Bentuk dada, pada bayi berbeda dengan orang dewasa. Dada bayi berbentuk bulat/melingkar dengan diameter antero-posterior sama dengan diameter tranversal (1 : 1). Pada orang dewasa perbandingan diameter antero-posterior dan tranversal adalah 1 : 2
Beberapa kelainan bentuk dada diantaranya : Pigeon chest yaitu bentuk dada yang ditandai dengan diameter tranversal sempit, diameter antero-posterior membesar dan sternum sangat menonjol ke depan. Funnel chest merupakan kelainan bawaan dengan ciri-ciri berlawanan dengan pigeon chest, yaitu sternum menyempit ke dalam dan diameter antero-posterior mengecil. Barrel chest ditandai dengan diameter antero-posterior dan tranversal sama atau perbandingannya 1 : 1.
Kelainan tulang belakang diantaranya : Kiposis atau bungkuk dimana punggung melengkung/cembung ke belakang. Lordosis yaitu dada membusung ke depan atau punggung berbentuk cekung. Skoliosis yaitu tergeliatnya tulang belakang ke salah satu sisi.
Pola napas, dalam hal ini perlu dikaji kecepatan/frekuensi pernapasan apakah pernapasan klien eupnea yaitu pernapasan normal dimana kecepatan 16 - 24 x/mnt, klien tenang, diam dan tidak butuh tenaga untuk melakukannya, atau tachipnea yaitu pernapasan yang cepat, frekuensinya lebih dari 24 x/mnt, atau bradipnea yaitu pernapasan yang lambat, frekuensinya kurang dari 16 x/mnt, ataukah apnea yaitu keadaan terhentinya pernapasan.
Perlu juga dikaji volume pernapasan apakah hiperventilasi yaitu bertambahnya jumlah udara dalam paru-paru yang ditandai dengan pernapasan yang dalam dan panjang ataukah hipoventilasi yaitu berkurangnya udara dalam paru-paru yang ditandai dengan pernapasan yang lambat.

Pernapasan yang perlu juga dikaji sifat pernapasan apakah klien menggunakan pernapasan dada yaitu pernapasan yang ditandai dengan pengembangan dada, ataukah pernapasan perut yaitu ditandai dengan pengembangan perut.
Perlu juga dikaji ritme/irama pernapasan yang secara normal adalah reguler atau irreguler, ataukah klien mengalami pernapasan cheyne stokes yaitu pernapasan yang cepat kemudian menjadi lambat dan kadang diselingi apnea, atau pernapasan kusmaul yaitu pernapasan yang cepat dan dalam, atau pernapasan biot yaitu pernapasan yang ritme maupun amplitodunya tidak teratur dan diselingi periode apnea.
Perlu juga dikaji kesulitan bernapas klien, apakah dispnea yaitu sesak napas yang menetap dan kebutuhan oksigen tidak terpenuhi, ataukah ortopnea yaitu kemampuan bernapas hanya bila dalam posisi duduk atau berdiri.
Perlu juga dikaji bunyi napas, dalam hal ini perlu dikaji adanya stertor/mendengkur yang terjadi karena adanya obstruksi jalan napas bagian atas, atau stidor yaitu bunyi yang kering dan nyaring dan didengar saat inspirasi, atau wheezing yaitu bunyi napas seperti orang bersiul, atau rales yaitu bunyi yang mendesak atau bergelembung dan didengar saat inspirasi, ataukah ronchi yaitu bunyi napas yang kasar dan kering serta di dengar saat ekspirasi.
Perlu juga dikaji batuk dan sekresinya, apakah klien mengalami batuk produktif yaitu batuk yang diikuti oleh sekresi, atau batuk non produktif yaitu batuk kering dan keras tanpa sekresi, ataukah hemoptue yaitu batuk yang mengeluarkan darah.

Status sirkulasi, dalam hal ini perlu dikaji heart rate/denyut nadi apakah takhikardi yaitu denyut nadi lebih dari 100 x/mnt, ataukah bradikhardi yaitu denyut nadi kurang dari 60 x/mnt.
Juga perlu dikaji tekanan darah apakah hipertensi yaitu tekanan darah arteri yang tinggi, ataukah hipotensi yaitu tekanan darah arteri yang rendah.
Juga perlu dikaji tentang oksigenasi pasien apakah terjadi anoxia yaitu suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam jaringan kurang, atau hipoxemia yaitu suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam darah kurang, atau hipoxia yaitu berkurangnya persediaan oksigen dalam jaringan akibat kelainan internal atau eksternal, atau cianosis yaitu warna kebiru-biruan pada mukosa membran, kuku atau kulit akibat deoksigenasi yang berlebihan dari Hb, ataukah clubbing finger yaitu membesarnya jari-jari tangan akibat kekurangan oksigen dalam waktu yang lama.
Palpasi :
Untuk mengkaji keadaan kulit pada dinding dada, nyeri tekan, massa, peradangan, kesimetrisan ekspansi dan taktil vremitus.
Taktil vremitus adalah vibrasi yang dapat dihantarkan melalui sistem bronkhopulmonal selama seseorang berbicara. Normalnya getaran lebih terasa pada apeks paru dan dinding dada kanan karena bronkhus kanan lebih besar. Pada pria lebih mudah terasa karena suara pria besar

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan oksigenasi diantaranya adalah :
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif
2. Pola napas tidak efektif
3. Gangguan pertukaran gas
4. Penurunan kardiak output
5. Rasa berduka
6. Koping tidak efektif
7. Perubahan rasa nyaman
8. Potensial/resiko infeksi
9. Interaksi sosial terganggu
10.Intoleransi aktifitas, dll sesuai respon klien

1.Bersihan jalan napas tidak efektif
Yaitu tertumpuknya sekresi atau adanya obstruksi pada saluran napas.
Tanda-tandanya :
• Bunyi napas yang abnormal
• Batuk produktif atau non produktif
• Cianosis
• Dispnea
• Perubahan kecepatan dan kedalaman pernapasan

Kemungkinan faktor penyebab :
• Sekresi yang kental atau benda asing yang menyebabkan obstruksi
• Kecelakaan atau trauma (trakheostomi)
• Nyeri abdomen atau nyeri dada yang mengurangi pergerakan dada
• Obat-obat yang menekan refleks batuk dan pusat pernapasan
• Hilangnya kesadaran akibat anasthesi
• Hidrasi yang tidak adekuat, pembentukan sekresi yang kental dan sulit untuk di expektoran
• Immobilisasi
• Penyakit paru menahun yang memudahkan penumpukan sekresi

2.Pola napas tidak efektif
Yaitu respon pasien terhadap respirasi dengan jumlah suplay O2 kejaringan tidak adekuat
Tanda-tandanya :
• Dispnea
• Peningkatan kecepatan pernapasan
• Napas dangkal atau lambat
• Retraksi dada
• Pembesaran jari (clubbing finger)
• Pernapasan melalui mulut
• Penambahan diameter antero-posterior
• Cianosis, flail chest, ortopnea
• Vomitus
• Ekspansi paru tidak simetris

Kemungkinan faktor penyebab :
• Tidak adekuatnya pengembangan paru akibat immobilisasi, obesitas, nyeri
• Gangguan neuromuskuler seperti : tetraplegia, trauma kepala, keracunan obat anasthesi
• Gangguan muskuloskeletal seperti : fraktur dada, trauma yang menyebabkan kolaps paru
• CPPO seperti : empisema, obstruksi bronchial, distensi alveoli
• Hipoventilasi akibat kecemasan yang tinggi
• Obstruksi jalan napas seperti : infeksi akut atau alergi yang menyebabkan spasme bronchial atau oedema
• Penimbunan CO2 akibat penyakit paru

3.Gangguan pertukaran gas
Yaitu perubahan asam basa darah sehingga terjadi asidosis respiratori dan alkalosis respiratori.

4.Penurunan kardiak output
Tanda-tandanya :
• Kardiak aritmia
• Tekanan darah bervariasi
• Takikhardia atau bradikhardia
• Cianosis atau pucat
• Kelemahan, vatigue
• Distensi vena jugularis
• Output urine berkurang
• Oedema
• Masalah pernapasan (ortopnea, dispnea, napas pendek, rales dan batuk)

B. Latihan napas dalam dan batuk efektif
Biasanya dilakukan pada pasien yang bedrest atau post operasi
Cara kerja :
• Pasien dalam posisi duduk atau baring
• Letakkan tangan di atas dada
• Tarik napas perlahan melalui hidung sampai dada mengembang
• Tahan napas untuk beberapa detik
• Keluarkan napas secara perlahan melalui mulut sampai dada berkontraksi
• Ulangi langkah ke-3 sampai ke-5 sebanyak 2-3 kali
• Tarik napas dalam melalui hidung kemudian tahan untuk beberapa detik lalu keluarkan secara cepat disertai batuk yang bersuara
• Ulangi sesuai kemampuan pasien
• Pada pasien pot op. Perawat meletakkan telapak tangan atau bantal pada daerah bekas operasi dan menekannya secara perlahan ketika pasien batuk, untuk menghindari terbukanya luka insisi dan mengurangi nyeri

C. Posisi yang baik
• Posisi semi fowler atau high fowler memungkinkan pengembangan paru maksimal karena isi abdomen tidak menekan diafragma
• Normalnya ventilasi yang adekuat dapat dipertahankan melalui perubahan posisi, ambulasi dan latihan

D. Pengisapan lendir (suctioning)
Adalah suatu metode untuk melepaskan sekresi yang berlebihan pada jalan napas, suction dapat dilakukan pada oral, nasopharingeal, trakheal, endotrakheal atau trakheostomi tube.

E. Pemberian obat bronkhodilator
Adalah obat untuk melebarkan jalan napas dengan melawan oedema mukosa bronkhus dan spasme otot dan mengurangi obstruksi dan meningkatkan pertukaran udara.
Obat ini dapat diberikan peroral, sub kutan, intra vena, rektal dan nebulisasi atau menghisap atau menyemprotkan obat ke dalam saluran napas.

2. Mobilisasi sekresi paru
A. Hidrasi
Cairan diberikan secara oral dengan cara menganjurkan pasien mengkonsumsi cairan yang banyak 2,5 liter perhari, tetapi dalam batas kemampuan/cadangan jantung.
B. Humidifikasi
Pengisapan uap untuk membantu mengencerkan atau melarutkan lendir.
C. Postural drainage
Adalah posisi khusus yang digunakan agar kekuatan gravitasi dapat membantu di dalam pelepasan sekresi bronkhial dari bronkhiolus yang bersarang di dalam bronkhus dan trakhea, dengan maksud supaya dapat membatukkan atau dihisap sekresinya.
Biasanya dilakukan 2 - 4 kali sebelum makan dan sebelum tidur / istirahat.
Tekniknya :
• Sebelum postural drainage, lakukan :

- Nebulisasi untuk mengalirkan sekret
- Perkusi sekitar 1 - 2 menit
- Vibrasi 4 - 5 kali dalam satu periode
• Lakukan postural drainage, tergantung letak sekret dalam paru.

3. Mempertahankan dan meningkatkan pengembangan paru

A. Latihan napas
Adalah teknik yang digunakan untuk menggantikan defisit pernapasan melalui peningkatan efisiensi pernapasan yang bertujuan penghematan energi melalui pengontrolan pernapasan
Jenis latihan napas :
• Pernapasan diafragma
• Pursed lips breathing
• Pernapasan sisi iga bawah
• Pernapasan iga dan lower back
• Pernapasan segmental

B. Pemasangan ventilasi mekanik
Adalah alat yang berfungsi sebagai pengganti tindakan pengaliran / penghembusan udara ke ruang thoraks dan diafragma. Alat ini dapat mempertahankan ventilasi secara otomatis dalam periode yang lama.
Ada dua tipe yaitu ventilasi tekanan negatif dan ventilasi tekanan positif.

C. Pemasangan chest tube dan chest drainage
Chest tube drainage / intra pleural drainage digunakan setelah prosedur thorakik, satu atau lebih chest kateter dibuat di rongga pleura melalui pembedahan dinding dada dan dihubungkan ke sistem drainage.
Indikasinya pada trauma paru seperti : hemothoraks, pneumothoraks, open pneumothoraks, flail chest.
The three bottle water
Tujuannya :
• Untuk melepaskan larutan, benda padat, udara dari rongga pleura atau rongga thoraks dan rongga mediastinum
• Untuk mengembalikan ekspansi paru dan menata kembali fungsi normal kardiorespirasi pada pasien pasca operasi, trauma dan kondisi medis dengan membuat tekanan negatif dalam rongga pleura.
Tipenya :
a. The single bottle water seal system
b. The two bottle water

4. Mengurangi / mengoreksi hipoksia dan kompensasi tubuh akibat hipoksia
Dengan pemberian O2 dapat melalui :
• Nasal canule
• Bronkhopharingeal kateter
• Simple mask
• Aerosol mask / trakheostomy collars
• ETT (endo trakheal tube)

5. Meningkatkan transportasi gas dan Cardiak Output
Dengan resusitasi jantung paru (RJP), yang mencakup tindakan ABC, yaitu :
A : Air way adalah mempertahankan kebersihan atau membebaskan jalan napas
B : Breathing adalah pemberian napas buatan melalui mulut ke mulut atau mulut ke hidung
C : Circulation adalah memulai kompresi jantung atau memberikan sirkulasi buatan
Jadi secara umum intervensi keperawatan mencakup di dalamnya :
a. Health promotion
• Ventilasi yang memadai
• Hindari rokok
• Pelindung / masker saat bekerja
• Hindari inhaler, tetes hidung, spray (yang dapat menekan nervus 1)
• Pakaian yang nyaman
b. Health restoration and maintenance
• Mempertahankan jalan napas dengan upaya mengencerkan sekret
• Teknik batuk dan postural drainage
• Suctioning
• Menghilangkan rasa takut dengan penjelasan, posisi fowler/semi fowler, significant other
• Mengatur istirahat dan aktifitas dengan memberikan HE yang bermanfaat, fasilitasi lingkungan, tingkatkan rasa nyaman, terapi yang sesuai, ROM
• Mengurangi usaha bernapas dengan ventilasi yang memeadai, pakaian tipis dan hangat, hindari makan berlebih dan banyak mengandung gas, atur posisi
• Mempertahankan nutrisi dan hidrasi juga dengan oral hygiene dan makanan yang mudah dikunyah dan dicerna
• Mempertahankan eliminasi dengan memberikan makanan berserat dan ajarkan latihan
• Mencegah dan mengawasi potensial infeksi dengan menekankan prinsip medikal asepsis
• Terapi O2
• Terapi ventilasi
• Drainage dada

INDIKASI PEMBERIAN O2
Berdasarkan tujuan terapi pemberian O2 yang telah disebutkan, maka adapun indikasi utama pemberian O2 ini adalah sebagai berikut :
(1) Klien dengan kadar O2 arteri rendah dari hasil analisa gas darah,
(2) Klien dengan peningkatan kerja nafas, dimana tubuh berespon terhadap keadaan hipoksemia melalui peningkatan laju dan dalamnya pernafasan serta adanya kerja otot-otot tambahan pernafasan,
(3) Klien dengan peningkatan kerja miokard, dimana jantung berusaha untuk mengatasi gangguan O2 melalui peningkatan laju pompa jantung yang adekuat.
Berdasarkan indikasi utama diatas maka terapi pemberian O2 dindikasikan kepada klien dengan gejala : (1) sianosis, (2) hipovolemi, (3) perdarahan, (4) anemia berat, (5) keracunan CO, (6) asidosis, (7) selama dan sesudah pembedahan, (8) klien dengan keadaan tidak sadar.

KONTRAINDIKASI
Tidak ada kontra indikasi absolut
Kanul nasal: jika ada obstruksi nasal
Kateter nasofaringeal: jika ada fraktur dasar tengkorak kepala, trauma maksilofasial, dan obstruksi nasal


Bab III PEMBAHASAN
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Implementasi keperawatan sesuai dengan intervensi dan evaluasi dilakukan sesuai tujuan dan kriteria termasuk di dalamnya evaluasi proses.
Evaluasi Hasil
Penilaian klinis : sistem kardiovaskular
Sistem respirasi
Monitoring O2 (FiO2)
SaO2
Analisis gas darah
P (A-a) O2
PaO2/FiO2

Bab IV KESIMPULAN
Terapi O2 merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh tenaga kesehatan termasuk keperawatan terhadap adanya gangguan pemenuhan oksigen pada klien. Pengetahuan perawat yang memadai terhadap proses respirasi dan indikasi serta metode pemberian O2 merupakan bekal bagi perawat agar asuhan yang diberikan tepat guna dengan resiko seminimal mungkin.

Bab V DAFTAR PUSTAKA :
Black, Joyce M. Medical Surgical Nursing ; Clinical Management For Continuity Of Care, W.B Sunders Company, 1999
Brunner & Suddarth. Buku Ajar Medikal Bedah, edisi bahasa Indonesia, vol. 8, Jakarta, 2001
Carpenito, LYnda Juall. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, EGC, Jakarta, 1999
Doengoes, Merilin E. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi ketiga, Jakarta, EGC, 1999
Engram, Barbara. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta, 1999
Long, Barbara C. Perawatan Medikal Bedah, YIAPK, Bandung, 1996
Potter, Patricia A. Perry, Anne G. Fundamental of Nursing ; Concepts, Process and Practice, Mosby Year Book, St. Louis, 1997
Taylor, Calor. Et al. Fundamentals of Nursing ; The Art and Science of Nursing Care, Lipincott, Philadelphia, 1997
……………, Dasar Dasar Keperawatan Kardiotarasik, Edisi ketiga, Rumah Sakit Jantung “Harapan Kita”, Jakarta 1993

TINDAKAN SUCTIONING

Panduan Suction untuk Pasien Dewasa

( Publishing and editing by Kelompok I FON ELKIU 2008)

1. PENDAHULUAN
Suctioning melibatkan aspirasi dari mekanik dari sekresi nasofaring, oropharynx dan batang tenggorok.
Ini merupakan prosedur yang diperlukan untuk mempertahankan jalan udara dan yang dilakukan pada sesuatu untuk membersihkan jalan nafas dengan batuk atau teknik lain pembersihan dada.

Prosedur dapat dilakukan melalui jalan nafas alami, atau melalui udara yang artifisial seperti tracheostomy tube atau melalui pembedahan seperti laryngectomy stoma.

Pedoman yang bertujuan untuk prosedur suction termasuk:
Persiapan Pasien
Waktu suctioning
Pembersihan peralatan
Penilaian hasil
Observasi Pasien

2. Lingkup Panduan
Pedoman mencakup semua staf yang melakukan prosedur suctioning.
Staf yang memiliki tanggung jawab untuk mengajar laypersons teknik isapan harus memberikan pelatihan apapun oleh adhering untuk panduan ini setiap saat.

Tujuan dari panduan ini adalah untuk:
• Menyediakan kerangka kerja bagi standar praktek suctioning
• Memberikan pelayanan kesehatan profesional dengan dukungan, pengetahuan dan bukti dari praktek-praktek yang baik diperlukan untuk memungkinkan mereka untuk melakukan teknik suctioning
Pedoman hanya berlaku untuk suctioning dari pasien di rumah mereka sendiri dan masyarakat lainnya pengaturan.
Alternatif situs komunitas seperti rumah sakit atau fasilitas rehabilitasi harus merujuk ke pedoman untuk Suctioning dalam pengaturan akut

3. Di butuhkan kompetensi
Pedoman ini berlaku untuk semua perawatan kesehatan profesional yang melakukan teknik suctioning.
Profesional Kesehatan memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa mereka kompeten untuk melaksanakan tugas dan didelegasikan harus bersedia untuk dipertanggungjawabkan untuk praktek mereka.
Mereka harus memberitahu manajer jika mereka merasa bahwa mereka tidak kompeten dan mengidentifikasi mereka yang berkaitan dengan kebutuhan pelatihan ini adalah praktikal.

4. Tanggung jawab dan akuntabilitas
Semua perawatan kesehatan profesional yang melakukan suctioning teknik pada pasien dalam pengaturan masyarakat, harus mengetahui isi panduan ini.
Mereka diingatkan bahwa mereka harus setiap waktu mematuhi:
• Keperawatan dan kebidanan Dewan Kode Perilaku Profesional (2002)
• Masyarakat dari The Chartered fisioterapist Aturan Perilaku Profesional (2002)

5. Pelatihan dari LAYPERSONS / asisten kesehatan
Di mana yang sesuai, prosedur ini dapat diajarkan untuk meletakkan orang / asisten perawatan kesehatan.
Karena itu setiap pelatihan dari laypersons perlu dilakukan oleh profesional perawatan kesehatan yang menganggap dirinya kompeten di bidang praktek ini.

Pelatihan harus mengikuti prinsip praktek ditetapkan dalam pedoman ini dan harus meliputi:
• Prinsip aman isapan
• Observasi pasien sebelum dan setelah prosedur
• Pengamatan dari teknik
• Kinerja dari teknik di bawah pengawasan sampai individu dianggapnya sendiri kompeten

6. Aman untuk pasien
• Semua pasien yang memerlukan isapan buatan melalui udara
• Mereka yang memerlukan isapan melalui bedah stoma
• Mereka yang memerlukan isapan untuk pengelolaan lisan atau berhubungan dgn sekresi cabang tenggorokan melalui rute oropharyngeal (OP) atau nasopharyngeal rute (NP).

NB. Pasien yang memerlukan reguler isapan berikut perubahan dalam kondisi (biasanya dikelola oleh kepercayaan akut) harus habis untuk masyarakat tim dengan rencana sedotan (lihat Lampiran 1)

7. IndikasiSUCTIONING
indikasi utama suctioning untuk merawat pasien adalah pasien tidak mampu menghasilkan udara yang cukup jelas oleh batuk.
Kebutuhan untuk pembersihan jalan nafas telah dibuktikan oleh:
1. Lebih sering batuk.
2. Terdengar sekresi
3. Terlihat sekresi
4. Peningkatan atau penurunan tekanan pasang surut volume pada ventilator
5. Indikasi oleh pasien yang diperlukan suctioning
6. Diduga aspirasi dari berhubung dgn lambung perut atau atas udara sekresi
7. Jika tak diterangkan dalam meningkatkan sesak nafas.
8. Menurun oksigen saturations pemikiran untuk dikaitkan dengan lendir di mana plugging oksigen saturations dipantau.

8. Kontra-indikasi untuk SUCTIONING
Ketika suctioning ditunjukkan, tidak mutlak dan contraindications ada kegagalan sedotan untuk dapat membuktikan untuk lebih merugikan dari potensi buruk reaksi. Namun, rutin atau 'dijadwalkan' suctioning, dengan tidak ada indikasi kebutuhan tidak dianjurkan.

9. Bahaya / komplikasi
Kemungkinan bahaya dan komplikasi adalah sama tanpa memperhatikan lokasi masing-masing.
Pasien harus dipantau terus untuk semua sebagai berikut.
• Oksigen de-saturation seperti yang ditunjukkan oleh denyutan nadi oximetry jika pemantauan tersebut telah ditetapkan.
• Trauma ke mulut, tracheal atau berhubungan dgn cabang tenggorokan mucosa
• Gagal jantung
• Respiratory Arrest
• jantung dysrhythmias
• paru atelectasis (kolapsnya bagian paru-paru karena mengakibatkan udara selama suctioning prosedur.
• Bronchospasm atau bronchoconstriction.
• Infeksi Pernafasan
• Pendarahan atau pendarahan
• Hipertensi atau hypotension.

10. PERSIAPAN PASIEN
• Bilamana mungkin pasien harus didorong untuk membersihkan jalan nafas oleh batuk atau teknik lain pembersihan udara. .
• Pra-oxygenation harus digunakan jika ditunjukkan. Ini harus ditentukan sebagai bagian dari rencana penyerahan isapan untuk perawatan di rumah sakit.

Pra-oxygenation tidak ditunjukkan dalam:
• Pasien didokumentasikan sebagai mengalami oksigen desaturation selama sedotan.
• Pasien yang mengalami cardiac dysrhythmias selama sedotan.
• Pasien terus menerima tambahan oksigen.
• Mereka yang hanya memerlukan OP atau NP suctioning.
• pernafasan yang menyebabkan hypoxia.

NB / manual hyperinflation Kadang-kadang mungkin juga diperlukan sebelum suctioning tetapi di luar lingkup ini sesuai pedoman dan pelatihan akan diminta dari kepercayaan untuk perawatan rumah sakit.

11. Prinsip-prinsip good praktek
• Bilamana layak, suctioning teknik harus diberikan langsung kepada pasien, untuk memungkinkan mereka untuk melakukan teknik pada diri mereka. Hal ini mengurangi risiko terjadinya transmisi organisme dan pengenalan yg berhubung dgn kulit infeksi dari pemberi perawatan.

• Adalah praktek umum dan diterima menggunakan bersih daripada teknik steril selama suctioning di lingkungan rumah sakit.

• pakai aprons dan perlindungan mata harus dipakai bila staf adalah melaksanakan suctioning prosedur untuk memperkecil potensi aerosol kontaminasi dari pakaian dan masuk ke dalam mata.
Sebagai minimum baik secara individu kemasan steril sarung tangan harus dikenakan atau jika tidak steril sarung tangan - getah, serbuk harus dikenakan dan 'tidak sentuh' teknik harus bekerja memastikan bahwa catheter tidak memiliki kontak langsung dengan sarung tangan.

• Pasien yang memerlukan pra-oxygenation juga harus menerima oksigen setelah suctioning telah selesai.

12. Penggunaan peralatan
Diharapkan dalam banyak situasi di mana perawatan kesehatan profesional yang melaksanakan suctioning teknik pada pasien dalam pengaturan masyarakat, isapan peralatan yang akan diberikan oleh 'peralatan utama layanan.
Dalam keadaan ini layanan kesehatan profesional / tim yang mengatur penyediaan peralatan tersebut bertanggung jawab untuk:
• Memeriksa bahwa peralatan adalah pelayanan dan dipelihara secara berkala
• Memeriksa bahwa isapan mesin diatur ke tingkat yang sesuai
<120mmHg pada orang dewasa (bertujuan untuk 80-120mmHg).

NB. Untuk lebih gigih sekresi tekanan yang lebih tinggi mungkin diperlukan, juga mempertimbangkan ukuran tabung yang digunakan. Namun, TIDAK melebihi 200mmHg.

Isapan catheter ukuran yang harus dicatat dalam rencana sedotan. Jika yang artifisial adalah udara di tempat tersebut tidak boleh melebihi ½ internal diameter dalam tabung.
Internal diameter x 3 untuk memperoleh ukuran dari catheter di Fg
2
Idealnya yang harus catheter <½ diameter dari batang tenggorok sehingga mengurangi risiko selama prosedur hypoxia.

13. PROSEDUR

• Selalu menjelaskan prosedur untuk pasien untuk mengamankan, meningkatkan kerjasama dan bantuan untuk beristirahat.

• Hands haruslah dikontaminasi menggunakan alkohol tangan menggilap / gel, jika tidak secara fisik bersih mereka harus dicuci dengan sabun dan air menggunakan teknik yang diakui dan kering dengan kertas lebih teliti handuk.

• Perlindungan pakaian termasuk sarung tangan (rinci di atas), aprons dan perlindungan mata harus dikenakan (masker N95 yang mungkin diperlukan jika pasien memiliki infeksi menular - ini tidak termasuk MRSA). Bila staf suctioning idealnya harus berdiri untuk satu sisi untuk meminimalkan potensi kontaminasi selama batuk.

• Buka akhir isapan catheter paket dan melampirkan ke sistem pipa-pipa isapan. Kawasan yang catheter yang akan datang tidak harus dimasukkan ke dalam kontak dengan sarung tangan atau untuk memastikan lingkungan yang tidak menyentuh teknik.

• Hapus catheter perlindungan dari lengan dan memperkenalkan melalui rute yang dipilih (lihat isapan rencana). Masukkan sampai batuk adalah mendorong atau jarak yang akan diukur hanya di atas carina (ini adalah titik di mana batang tenggorok bifurcates ke kanan dan kiri utama cabang tenggorokan). Hal ini dianggap tidak baik untuk memasukkan catheter tahan hingga dirasakan, karena hal ini akan meningkatkan kerusakan mucosal.

• Pastikan catheter dimasukkan tanpa isapan diterapkan. Kehalusan selama prosedur ini penting untuk mengurangi risiko kerusakan mucosal yang dapat mengakibatkan trauma dan meningkatkan risiko infeksi.

• Memasukan catheter yang hati-hati dengan isapan diterapkan (jempol atas kekosongan port). Tidak perlu menggunakan gerakan berputar sambil menerapkan isapan sebagai catheters memiliki lubang keliling.

• Jangan isapan berlaku untuk lebih dari 10 detik sekaligus.

• suction catheter yang harus dimasukkan dan ditarik setelah hanya untuk memperkecil potensi kontaminasi silang. Isapan catheters dimaksudkan sebagai satu menggunakan perangkat dan karena itu tidak boleh kembali atau diproses kembali digunakan.

• catheter yang harus melibat di sarung tangan dan dibuang

• sistem pipa-pipa yang seharusnya sedotan dicuci melalui suctioning baru-baru ini direbus dengan air steril atau air, (untuk membasuh diri lendir), bersih dari sebuah wadah yang kiri bersih dan kering di antara digunakan. Kontainer harus ditujukan untuk tujuan ini. Kemudian aspirate udara dan kering untuk membersihkan permukaan internal dari sistem pipa-pipa.

• Perlindungan pakaian harus dihilangkan dan tangan dikontaminasi baik dengan sabun dan air bersih secara fisik atau jika alkohol gel.

14.Suction YANKAUER
• Selalu menjelaskan prosedur untuk pasien untuk mengamankan, meningkatkan kerjasama dan bantuan untuk beristirahat.
• Hands haruslah dikontaminasi menggunakan alkohol tangan menggilap / gel, jika tidak secara fisik bersih mereka harus dicuci dengan sabun dan air menggunakan teknik yang diakui dan kering dengan kertas lebih teliti handuk.
• Perlindungan pakaian termasuk sarung tangan (rinci di atas), aprons dan perlindungan mata harus dikenakan.
• Lampirkan yang yankauer catheter (kaku plastik sudut catheter) ke sistem pipa-pipa sedotan dan tempat dalam rongga mulut.
• Terapkan isapan untuk menghapus lisan sekresi.
• Perlindungan pakaian harus dihilangkan dan tangan dikontaminasi baik dengan sabun dan air bersih secara fisik atau jika alkohol gel.

15. Penilaian hasil

Hasil pengamatan dan harus dicatat dalam rencana perawatan untuk menginformasikan. Suctioning prosedur yang dapat dianggap berhasil dan perlu untuk suctioning affirmed oleh:
• Menghilangkan sekresi
• Perbaikan nafas suara
• Membersihkan batuk
• Meningkatkan oksigen saturations tercermin dalam detak nadi oximetry
• peningkatan subyektif seperti yang dilaporkan oleh pasien
• Penurunan tingkat pernafasan dan detak jantung
• Penurunan sesak nafas.
• Penurunan tekanan puncak inspiratory pasang surut dan peningkatan volume pada mekanik ventilasi.

Pasien harus dipantau untuk reaksi buruk ini mungkin termasuk perubahan dalam:

Artikel atau suara
o Kulit warna - termasuk keberadaan atau tidak adanya cyanosis
o menilai pernafasan
o menilai Heart

dahak atau karakteristik (warna, volume, konsistensi dan bau)
o tekanan darah
o ventilator variabel (jika perlu)
o Oksigen saturations oximetry medis ketika ditunjukkan oleh berdebar-debar.
Jika pra-oxygenation digunakan kemudian posting oxygenation harus terjadi.

16. Keterbatasan prosedur
Suctioning hanya memiliki kemampuan untuk menghapus sekresi yang telah dikumpulkan di vicky (pencabangan dua dari batang tenggorok) atau di atas.
Sekresi yang disimpan dalam jalan nafas tidak akan dihapus dengan prosedur ini.

17. PERALATAN

• Suction mesin.
Suction mesin diberikan kepada pasien harus memiliki fasilitas untuk mengendalikan tekanan sedotan (80-120 mmHg).
Kebanyakan isapan mesin yang disediakan telah hadir di non-pakai sedotan waduk (jar kaca).

• suction tube.
Hal ini harus disertakan dalam jumlah yang cukup untuk membolehkan sistem pipa-pipa yang akan berubah setidaknya setiap 7 hari sebagaimana petunjuk

• Suction catheters
Dianjurkan catheters yang digunakan harus dikontrol kekosongan (orang-orang dengan ibu jari kontrol). ukuran Catheter tidak boleh melebihi setengah internal diameter dari udara / buatan udara

• Yankaeur catheters
Dianjurkan Yankaeur catheters kekosongan harus dikontrol. Jika tidak dikontrol kekosongan catheters diberikan, harus diperhatikan untuk hanya berlaku pada isapan penarikan dari catheter.

• Sarung tangan
Dianjurkan lateks, tidak steril, sarung tangan bebas serbuk digunakan.

• mata
Perisai mata harus disediakan untuk digunakan oleh profesional kesehatan. Ini memberikan perlindungan dari splashes dan aerosol.

• Aprons
Pakai plastik aprons harus dikenakan setiap saat ketika melakukan isapan prosedur dan prosedur dekontaminasi.

• masker
Pelindung yang tidak diperlukan secara rutin. Dalam kasus yang merawat pasien dengan penyakit menular, spesialis masker akan diberikan. Nasehat ini juga dapat dicari didapat dari Perawat Spesialis Pengendalian Infeksi.

18. Infeksion control

PRAKTEK-PRAKTEK DIKONTAMINASI

Untuk reservoir, dan sistem pipa-pipa catheters (Damani 2003)

• isapan reservoir atau kontainer akan pakai bisa atau tidak pakai. Bila endapan non-pakai (isapan jar)servoir tindakan kewaspadaan berikut harus diambil:

• pakai plastik APRON pakai dan tidak steril sarung tangan harus dikenakan untuk endapan yang menggetarkan. Perlindungan mata harus dikenakan jika pukulan ke wajah adalah kemungkinan. Jika pasien menyebarkan infeksi pernafasan yang tinggi penyaringan N95 masker harus dikenakan (ini tidak termasuk MRSA).

• jar yang harus diputus dari sistem vakum, dijalankan dengan seksama ke toilet dan dituangkan hati-hati untuk meminimalkan penyebaran ke lingkungan sekitar. Sekresi harus dibersihkan dengan jumlah air berlebihan.

• jar yang harus dicuci dan kemudian dicuci dengan General Purpose Deterjen (GPD) dan solusi air panas. Ia harus dicuci lagi di air tawar dan kering dengan handuk sekali pakai kertas.

• Sebuah solusi yang lemah sodium bikarbonat dapat digunakan untuk membantu menghapus mucuos bahan.

• Sebagai alternatif isapan jar dapat dicuci dalam mesin cuci disinfector di steril layanan departemen jika fasilitas ini tersedia.

• Botol harus dikosongkan ketika 2 / 3 penuh. Dalam masyarakat pengaturan, pasien harus didorong untuk membersihkan botol dalam hitungan hari terlepas dari jumlah aspirate.

• penggunaan yang rutin pembasmian tidak perlu untuk membersihkan sedotan kaleng. Organik dalam hal isi akan mudah menonaktipkan pembasmian, sehingga penambahan pembasmian hanya akan memperpanjang proses dan tidak akan ada keuntungan.
Satu-satunya pengecualian untuk saat ini adalah pasien / klien telah TBC paru-paru atau penyakit menular lainnya. Dalam kasus tersebut sebaiknya untuk mengirim peralatan untuk CSSD untuk desinfektan sebelum menggunakan kembali.

Penanganan suatu ketika (liner) reservoir, tindakan kewaspadaan berikut harus diambil: --

• A pakai plastik APRON pakai dan sarung tangan tidak steril harus dikenakan.
• suction reservoir yang harus diputus dari kekosongan sistem tertutup dengan benar dan sesuai dengan petunjuk pabriknya.
• sewa yang harus bersegel aman dan dibuang sebagai limbah klinis.

Suction tube (Lawrence et al 2003

• Suction tube harus diganti setiap 7 hari kecuali banyak jumlah pengeluaran yang sudah ada atau dalam kasus-kasus dimana sistem pipa-pipa yang menjadi kotor, perubahan harian dalam kasus ini.

CATHETERS (Wilson 2002)

• Yankaeur suction catheters dapat digunakan kembali pada pasien yang sama / klien mereka yang diberikan melalui bersemangat setelah digunakan, dengan teliti dibersihkan menggunakan air panas dan deterjen tujuan umum , dicuci dan dikeringkan menggunakan handuk kertas sekali pakai , bagian dalam catheter dapat kering aspirating oleh udara.
Mereka harus disimpan bersih dan kering dan dilindungi dari pencemaran lingkungan. Frekuensi perubahan harus berdasarkan penilaian risiko atas tergantung pada penggunaan dan sifat sekresi.
Dalam masyarakat ini harus di mingguan sebagai minimum tetapi lebih sering jika diperlukan.

19. PENYELENGGARAAN
• filter yang harus diubah sesuai dengan rekomendasi produsen, frekuensi dapat bervariasi dari bulanan untuk setiap tahun tergantung pada masing-masing unit sedotan.
Filter juga harus berubah jika mereka menjadi basah atau warna atau jika isapan telah dilakukan pada pasien / klien yang dikenal dengan darah ditanggung infeksi virus atau tebece paru-paru sebelum suctioning pasien/klien lain. Rutin biasanya akan mengubah filter dilakukan pada saat pelayanan.
Namun, petugas kesehatan akan memiliki akses ke cadangan filter dalam kasus pencemaran.

• isapan mesin harus selalu disevice sesuai dengan petunjuk pabriknya.
Tanggung jawab untuk pemeliharaan terletak dengan organisasi yang telah menyediakan peralatan.

• Dalam kasus di mana isapan mesin telah disediakan oleh organisasi lain, kesehatan profesional yang diperlukan untuk mensuplai habis, yaitu sistem pipa-pipa isapan catheters dan sejalan dengan panduan ini.

20. PENYIMPANAN
Bila isapan unit tidak digunakan, botol harus dijaga bersih dan kering dan catheter tidak boleh sampai connected diperlukan.
Pasien / wali harus didorong untuk menutupi mesin dengan penutup debu bukti jika tidak digunakan, misalnya teh handuk bersih.

Perlu diingat, petunjuk lebih lanjut tentang Infeksi Kontrol termasuk masalah;
• Penggunaan perlindungan CLOTHING
• kebersihan tangan
• Manajemen Limbah
• Dekontaminasi

Monday, December 15, 2008

PROSES KEPERAWATAN

By Sudiryo NPM 220111080041

The term PROSES KEPERAWATAN was first used/mentioned by Lydia Hall, a nursing theorist, in 1955 wherein she introduced 3 STEPs: observation, administration of care and validation.

Since then, Proses Keperawatan continue to evolve:
it used to be a 3-step process,
then a 4-step process (APIE),
then a 5-step (ADPIE),
now a 6-step process (ADOPIE) ASSESSMENT, DIAGNOSIS, OUTCOME IDENTIFICATION, PLANNING, IMPLEMENTATION and EVALUATION.

NURSING PROCESS

· is a systematic, organized method of planning, and providing quality and individualized nursing care.

· it is synonymous with the PROBLEM SOLVING APPROACH that directs the nurse and the client to determine the need for nursing care, to plan and implement the care and evaluate the result.

· It is a G O S H approach
(goal-oriented, organized, systematic and humanistic care)
for efficient and effective provision of nursing care.

Photobucket

Goal-oriented – nurse make her objective based on client’s health needs.

Remember: Goals and plan of care should be base according to client’s problems/needs
NOT according to your own problem as the nurse.

Organized/Systematic – the nursing process is composed of 6 sequential
and interrelated steps and these 6 phases follow a logical sequence.

Humanistic care

* plan to care is developed and implemented taking into consideration the unique needs of the individual client.
* plan of care therefore is individualized (no 2 person has the same health needs even with same health condition/illness)
* in providing care, it involves respect of human dignity

Efficient – plan of case is relevant/related to the needs of the client
thereby promoting client satisfaction and progress.

Effective – in planning care, utilized resources wisely (staff, time, money/cost)

Aside from GOSH, other characteristic of Nursing Process

Cyclic and Dynamic in nature – data from each phase provides the input into the next phase so that is becomes a sequence of events (cycle) that are constantly changing (dynamic) base on client’s health status.

Involves skill in Decision-making – nurse makes important decisions related to client care, she choose the best action/steps to meet a desired goal or to solve a problem. She must make decisions whenever several choices or options are available.

Uses Critical Thinking skills – the nurse may encounter new ideas or less-than-routine or non-ordinary situations where decisions must be made using critical thinking.

Purpose of Nursing Process:

1. To identify a client’s health status; his Actual/Present and potential/possible health problems or needs.
2. To establish a plan of care to meet identified needs.
3. To provide nursing interventions to meet those needs.
4. To provide an individualized, holistic, effective and efficient nursing care.

Steps/Phases of the Nursing Process:

1. Assessment
2. Diagnosis
3. Outcome Identification
4. Planning
5. Implementation
6. Evaluation

Sunday, December 14, 2008

Alzheimer


By : Ulul azmi iswahyudi
NPM : 220111080032
Sign of alzheimer's disease ( 10 warning of sign)
People with alzheimer's experience difficulties communicating, learning, thinking and reasoning. Problems severe enough to have an impact on an individual's work, social activities and family life.

10 warning sign of alzheimer's are :

1. Memory loss. Forgetting recently learned information is one of the most common early signs of dementia. A person begins to forget more often and is unable to recall the information later.
What's normal? Forgetting names or appointments occasionally.

2. Difficulty performing familiar tasks. Individuals may lose track of the steps involved in preparing a meal, placing a telephone call or playing a game.
What's normal? Occasionally forgetting why you came into a room or what you planned to say.

3. Problem with language. Often forget simple words or substitute unusual words, making their speech or writing hard to understand.
What's normal? Sometimes having trouble finding the right word.

4. Disorientation to time and place. May bocome lost in their own neighborhood, forget where they are and how they got there, and not know how to get back home.
What's normal? Forgetting the day of the week or where you were going.

5. Poor or decresed judgment. Those with alzheimer's may dress inappropriately, wearing several layers on a warm day or little clothing in the cold.
What's normal? Making questionable or debatable decision from time to time.

6. Problems with abstract thinking. May have unusual difficulty performing complex mental tasks, like forgetting what numbers are for and how they should be used.
What's normal? Finding it challenging to balance a checkbook.

7. Misplacing things. May put things in unusual places such as an iron in the freezer or a wristwatch in the sugar bowl.
What's normal? Misplacing key or wallet temporarily.

8. Changes in mood or behavior. May slow rapid mood swings-from calm to tears to anger- for no apparent reason.
What's normal? Occasionally feeling sad or moody.

9. Change in personality. May change dramatically, may become extremely confused, suspicious, fearful or dependent on a family member.
What's normal? People's personalities do change somewhat with age.

10. Loss of initiate. May become very passive, sitting in front of the tv for hours, sleeping more than usual or not wanting to do usual activities.
What's normal? Sometimes feeling weary of work or social obligations

Four key principles of elderly care


Published by : Ulul Azmi iswahyudi
NPM : 220111080032


What do you expect at your age ?.............................You are not getting any younger !
It's very important that older, adults, their families, friends and health care provider understand several key concepts to ensure that older receive timely and appropriate health care services and advise.

1. Sudden change comes from sudden problems
An older person that suddenly becomes confused, but was alert and oriented, is having an acute problem such as an infection, medication side effect or even heart attack. These and many acute problem can be treated effectively if diagnosed properly and in timely manner.

2. Gradual decline may not be Alzheimer's disease
Alzheimer's disease symptoms develop slowly. However, there are many other problems that develop slowly and may cause gradual decline. Loneliness and social isolation can also cause gradual decline.
................ Medication use in elderly is a major drug problem in America. Many older people see several doctors, each of whom may prescribe different medications. It's not hard to see how medications may pile up and how difficult they may be to ttrack. They should make sure their doctors know about all medication they are taking, are they necessary? what side effect should I watch for? The doctor should also know about alcohol, cigarette and coffe use.

3. Ageist attitudes are harmful
They are unjust generalizations and prejudicial statement that assume all order adults naturally become weak, sick and forgetful. Older people get sick from disease, not "old age".

4. A story to remember.
Think about it. Don't sell older people short. There is always something that can be done to help an older person lead a happier, more functional life, even in extreme old age.
By Robert S. Stall, M.D.

Thursday, December 11, 2008

TEORY AND CONCEPTUAL MODEL OF NURSING


Theory And Conceptual Models of Nursing

Published by:
SUDIRYO ( NPM. 220111080041 )


1. VIRGINIA HENDERSON, 1978


Keperawatan adalah suatu fungsi yang unik dari perawat untuk menolong klien yang sakit atau sehat dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan meningkatkan kemampuan, kekuatan, pengetahuan dan kemandirian pasien secara rasional, sehingga pasien dapat sembuh atau meninggal dengan tenang.

Definisi ini merupakan awal terpisahnya ilmu keperawatan dan medik dasar.
Dari definisi tersebut adalah asumsi tentang individu yaitu :
o Individu perlu untuk mempertahankan keseimbangan fisiologis dan emosional.
o Individu memerlukan bantuan untuk memperoleh kesehatan dan kemandirian atau meninggal dengan damai.
o Individu membutuhkan kekuatan yang diperlukan , keinginan atau pengetahuan untuk mencapai atau mempertahankan kesehatan.

Henderson berpendapat peranan perawat membantu individu sehat sakit dengan suatu cara penambah atau pelengkap (supplementary atau emplementary). Perawat sebagai partner penolong pasien dan kalau perlu sebagai pengganti bagi pasien.

Focus perawat adalah menolong pasien dan keluarga untuk memperoleh kebebasan dalam hal memenuhi 14 kebutuhan dasar yaitu :

1. Bernafas secara normal

2. Makan dan minum cukup /adekuat

3. Eliminasi

4. Bergerak dan mempertahankan posisi yang dikehendaki

5. Istirahat dan tidur

6. Memilih baju yang cocok, cara berpakaian; berpakaian dan melepas pakaian.

7. Mempertahankan temperature tubuh dan rentang normal

8. Menjaga tubuh tetap rapi dan bersih

9. Menghindari bahaya dari lingkungan

10. Berkomunikasi dengan orang lain

11. Beribadah menurut keyakinan

12. Bekerja yang menjanjikan prestasi

13. Bermain dan berpartisipasi dalam berbagai bentuk rekreasi

14. Belajar menggali atau memuaskan rasa keingintahuan yang mengacu pada perkembangan dan kesehatan normal.

Nama lengkap :Virginia Avenel Henderson

Lahir : November 30, 1897, Kansas City, Missouri
Meninggal : March 19, 1996, Branford, Connecticut
Orang Tua: Daniel B. and Lucy A. Henderson

Pendidikan:

Early education at home in Virginia with her aunts, her sister and an uncle, Charles Abbott, at his school for boys in the community
Army School of Nursing, Washington, D.C., Graduated 1921
Teachers College, Columbia University, BS, 1931; MS, 1934

Karir dalam Keperawatan:

Henry Street Visiting Nurse Association, New York, New York, 1921
Visiting Nurse Association, Washington, D.C., 1923-1924
Norfolk Protestant Hospital, Norfolk, Virginia, Instructor and Educational Director, 1924-1929
Strong Memorial Hospital, Rochester, New York, Supervisor and Clinical Instructor, Outpatient Department, 1930
Teachers College, Columbia University, New York, Instructor and Associate Professor, 1934-1948
Yale University School of Nursing, New Haven, Connecticut, Research Associate, 1953-1971; Research Associate Emeritus, 1971-1996



2. DOROTHEA OREM 1978

Keperawatan adalah sebuah pertolongan atas pelayanan yang diberikan untuk menolong orang secara keseluruhan ketika mereka atau orang yang bertanggung jawab atas perawatan mereka tidak mampu memberikan perawatan kepada mereka.

Keperawatan merupakan salah satu daya atau usaha manusia untuk membantu manusia lain dengan melakukan atau memberikan pelayanan yang professional dan tindakan untuk membawa manusia pada situasi yang saling menyayangi antara manusia dengan bentuk pelayanan yang berfokus kepada manusia seutuhnya yang tidak terlepas dari lingkungannya.

Menurut OREM asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan bahwa setiap orang memperlajari kemampuan untuk merawat diri sendiri sehingga membantu individu memenuhi kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan.

Teori ini dikenal dengan TEORI SELF CARE (Perawatan Diri )Orang dewasa dapat merawat diri mereka sendiri, sedangkan bayi, lansia dan orang sakit membutuhkan bantuan untuk memenuhi aktivitas self care mereka.

Orem mengklasifikasikan self care dalam 3 syarat :
o Syarat universal : fisiologi dan psikososial termasuk kebutuhan udara, air, makanan, eliminasi, aktivitas dan istirahat, sosial, pencegahan bahaya.
o Syarat pengembangan : untuk meningkatkan proses perkembangan sepanjang siklus hidup.
o Penyimpangan kesehatan berhubungan dengan kerusakan atau penyimpangan cara, struktur norma dan integritas yang dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk melakukan self care.

Asuhan keperawatan mandiri dilakukan dengan memperhatikan tingkat ketergantungan atau kebutuhan pasien dan kemampuan pasien.

Oleh karena itu ada tiga tingkatan dalam asuhan keperawatan mandiri.
o Perawat memberi keperawatan total ketika pertama kali asuhan keperawatan dilakukan karena tingkat ketergantungan pasien yang tinggi ( system pengganti keseluruhan ).
o Perawat dan pasien saling berkolaborasi dalam tindakan keperawatan ( system pengganti sebagian )
o Pasien merawat diri sendiri dengan bimbingan perawat ( system dukungan/pendidikan ).


3. IMOGENE KING 1971

Keperawatan adalah suatu profesi yang memberikan bantuan pada individu dan kelompok untuk mencapai, memelihara dan mempertahankan derajat kesehatan dengan memperhatikan, memikirkan, menghubungkan, menentukan dan melakukan tindakan perawatan sehingga individu atau kelompok berprilaku yang sesuai dengan kondisi keperawatan.

Keperawatan berhubungan langsung dengan lingkungan, tempat atau ruang dan waktu untuk membentuk suatu hubungan menanggulangi status kesehatan dalam proses interpersonal reaksi interaksi dan transaksi dimana perawat dank Klien berbagi informasi mengenai persepsinya dalam keperawatan.

Kerangka ini dikenal dengan system kerangka terbuka. Asumsi yang mendasari kerangka ini adalah :

o Asuhan keperawatan berfokus pada manusia termasuk berbagai hal yang mempengaruhi kesehatan seseorango Tujuan asuhan keperawatan adalah kesehatan bagi individu, kelompok dan masyarakat.
o Manusia selalu berinteraksi secara konstan terhadap lingkungan dalam kerangka konsep ini.
Tiga system yang saling berinteraksi :
 Keperibadian ( personal system ) setiap individu mempunyai system kepribadian tertentu.
 System interpersonal terbentuk karena hasil interaksi manusia, dapat berbentuk interaksi, komunikasi, perjanjian, stress dan peran.
 System sosial meliputi keluarga, kelompok, keagamaan, system pendidikan, system pekerjaan dan kelompok sebaya.

Menurut King, tujuan pemberian asuhan keperawatan dapat dicapai jika perawat dan pasien saling bekerja sama dalam mengidentifikasi masalah serta menetapkan tujuan bersama yang hendak dicapai.


4. BETTY NEWMAN, 1989

Keperawatan adalah suatu profesi yang unik dengan memperhatikan seluruh factor-faktor yang mempengaruhi respon individu terhadap penyebab stress, tekanan intra, inter dan ekstra personal.

Perawatan berfokus kepada mencegah serangan stress dalam melindungi klien untuk mendapatkan atau meningkatkan derajat kesehatan yang paling baik.

Perawatan menolong pasien untuk menempatkan primary, secondary dan tertiary.

Metode pencegahan untuk mencegah stress yang disebabkan factor lingkungan dan meningkatkan system pertahanan pasien.

Menurut Newman, asuhan keperawatan dilakukan untuk mencegah atau mengurangi reaksi tubuh akibat adanya stressor. Peran ini disebut pencegahan penyakit yang terdiri dari pencegahan primer, sekunder dan tertier.

 Primer = meliputi tindakan keperawatan untuk mengidentifikasi adanya stressor, mencegah terjadinya reaksi tubuh karena adanya stressor.
 Sekunder = tindakan keperawatan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala penyakit atau reaksi tubuh lainnya karena adanya stressor.
 Tersier = meliputi pengobatan rutin dan teratur serta pencegahan kerusakan lebih lanjut atau komplikasi dari suatu penyakit.


5. CALISTA ROY 1976

Keperawatan adalah sebagai ilmu pengetahuan melalui proses analisa dan tindakan yang berhubungan untuk merawat klien yang sakit atau yang kurang sehat.

Sebagai ilmu pengetahuan keperawatan Metode yang digunakan adalah terapeutik, scientifik dan knowledge dalam memberikan pelayanan yang esensial untuk meningkatkan dan mempengaruhi derajat kesehatan.

Roy menggambarkan metode adaptasi dalam keperawatan :
o Individu adalah makhluk biospikososial sebagai satu kesatuan yang utuh. Seseorang dikatakan sehat jika mampu berfungsi untuk memenuhi kebutuhan biologis, psikologis dan sosial.
o Setiap orang selalu menggunakan koping baik yang bersifat positif maupun yang negatif untuk dapat beradaptasi.
Kemampuan beradaptasi seseorang dipengaruhi oleh tiga komponen yaitu :
 Penyebab utama terjadi perubahan
 Factor kondisi dan situasi yang berbeda
 Keyakinan dan pengalaman dalam beradaptasi.
o Setiap individu berespon terhadap kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan konsep diri yang positif, kemampuan untuk hidup mandiri/kemandirian, serta kebutuhan akan kemampuan melalui peran dan fungsi secara optimal untuk memelihara integritas diri.
o Posisi individu pada rentang sehat sakit terus berubah, berhubungan erat dengan keefektifan koping yang dilakukan untuk memelihara kemampuan beradaptasi.

o Roy berpendapat ada 2 metode koping yaitu :
Regulator = memproses input secara sistematis melalui jalur saraf, kimia dan endokrin
Cagnator = memproses input melalui cara kognitif seperti persepsi, proses informasi, belajar, keputusan dan emosi.

o Individu adalah makhluk biopsikososial sebagai satu kesatuan yang utuh yang memiliki mekanisme koping untuk dapat beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.
Individu selalu berinteraksi secara konstan atau selalu beradaptif terhadap perubahan lingkungan.

o Lingkungan adalah semua yang ada disekeliling kita dan berpengaruh terhadap perkembangan manusia.

o Sehat adalah suatu keadaan proses dalam menjaga integritas diri Peran perawat adalah membantu pasien beradaptasi terhadap perubahan yang ada.

Menurut Roy, tindakan keperawatan ditujukan untuk meningkatkan adaptasi individu terhadap sehat dan penyakit.

Keempat model adaptasi itu adalah :

o Model fisiologi : cairan dan elektrolit, sirkulasi dan oksigenasi, nutrisi dan eliminasi, proteksi, neurology dan endokrin.
o Model konsep diri : gambaran diri, ideal diri, moral diri.
o Model fungsi peran : kebutuhan akan integritas
o Model interdependen (kemandirian ) : hubungan seseorang dengan yang lain dan sumber system yang memberikan bantuan, kasih sayang dan perhatian.



6. MARTHA ROGERS, 1970.

Keperawatan adalah pengetahuan yang ditujukan untuk mengurangi kecemasan terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan , pencegahan penyakit, perawatan rehabilitasi penderita sakit serta penyandang cacat.

Teori Rogers berfokus pada proses kehidupan manusia.
Menurutnya kehidupan seseorang dipengaruhi alam sebagai lingkungan hidup manusia dan pola pertumbuhan dan perkembangan seseorang.

Asumsi dasar teori rogers tentang manusia adalah :
o Manusia adalah kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain.
o Kehidupan setiap manusia adalah sesuatu yang unik . tidak ada dua hal didalam kehidupan ini yang dapat diulang dengan cara yang sama dibawah keadaan yang sama . jalan hidup seseorang berbeda dengan yang lain.
o Perkembangan manusia dapat dinilai dari tingkah lakunya.
o Manusia diciptakan dengan karakteristik dan keunikan tersendiri misalnya dalam hal sifat dan emosi.

Rogers menggambarkan individu dan lingkungan sebagai medan energi, terbuka, berpola



7. ABDELLAH FAYE

Keperawatan adalah seni ilmu dalam memberikan pelayanan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
Untuk membentuk sikap dalam meningkatkan kemampuandan keterampilan setiap individu perawat untuk mencapai tujuan membantu manusia yang sakit maupun sehat, menanggulangi atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan kesehatannya.



8. PEPLAU

Keperawatan adalah suatu hasil proses kerja sama manusia dengan manusia lainnya supaya menjadi sehat atau tetap sehat (hubungan antar manusia)

Pendidikan atau pematangan tujuan yang dimaksud untuk meningkatkan gerakan yang progresif dan kepribadian seseorang dalam berkreasi, membangun, menghasilkan pribadi dan cara hidup bermasyarakat.

Hubungan interpersonal yang merupakan factor utama model keperawatan menurut Peplau mempunyai asumsi terhadap 4 konsep utama yaitu :

o Manusia = individu dipandang sebagai suatu organisme yang berjuang dengan caranya sendiri untuk mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh kebutuhan. Tiap individu merupakan makhluk yang unik, mempunyai persepsi yang dipelajari dan ide yang telah terbentuk dan penting untuk proses interpersonal.

o Masyarakat/lingkungan = budaya dan adapt istiadat merupakan factor yang perlu dipertimbangkan dalam menghadapi kehidupan.

o Kesehatan = didefinisikan sebagai perkembangan kepribadian dan proses kemanusiaan yang berkesinambungan kea rah kehidupan yang kreatif, konstruktif dan produktif.

o Keperawatan = dipandang sebagai proses interpersonal yang bermakna. Proses interpersonal merupakan materina force dan alat edukatif yang baik bagi perawat maupun klien.

Pengetahuan diri dalam konteks interaksi interpersonal merupakan hal yang penting untuk memahami klien dan mencapai resolusi masalah.

Suatu model dapat diuraikan secara rinci kebutuhan utama/primer ;

o Tujuan asuhan keperawatan Kepribadian yang berkembang melalui hubungan interpersonal mendidik dalam pemenuhan kebutuhan klien.

o Klien
System dari yang berkembang terdiri dari karakteristik biokimia, fisiologis, interpersonal dan kebutuhan serta selalu berupaya memenuhi kebutuhannya dan mengintegrasikan belajar pengalaman.

o Peran nurse
Nurse berperan mengatur tujuan dan proses interaksi interpersonal dengan pasien yang bersifat partisipatif, sedangkan pasien mengendalikan isi yang menjadi tujuan.

Dalam hubungannya dengan pasien, perawat berperan sebagai orang asing, pendidik, narasumber, pengasuh pengganti, pemimpin dan konselor sesuai dengan fase proses interpersonal.

o Sumber kesulitan
Ansietas berat yang disebabkan oleh kesulitan mengintegrasikan pengalaman interpersonal yang lalu dengan yang sekarang ansietas terjadi apabila komunikasi dengan orang lain mengancam keamanan psikologik dan biologic individu.

o Focus intervensi
Ansietas yang disebabkan oleh hubungan interpersonal yang mempengaruhi perkembangan kepribadian .

4 komponen sentral yaitu proses interpersonal, perawat, pasien dan ansietas.

o Cara intervensi
Proses interpersonal terdiri dari 4 fase yaitu :

 Fase orientasi
Lebih difokuskan untuk membantu pasien menyadari ketersediaan bantuan dan rasa percaya terhadap kemampuan perawat untuk berperan serta secara efektif falam pemberian askep pada klien.

 Fase identifikasi
Terjadi ketika perawat memfasilitasi ekspresi perilaku pasien dan memberikan askep yang tanpa penolakan diri perawat memungkinkan pengalaman menderita sakit sebagai suatu kesempatan untuk mengorientasi kembali perasaan dan menguatkan bagian yang positif dan kepribadian pasien.

Respon pasien pada fase identifikasi dapat berupa :
 Pasrtisipan mandiri dalam hubungannya dengan perawat
 Individu mandiri terpisah dari perawat
 Individu yang tak berdaya dan sangat tergantung pada perawat.

 Fase eksplorasi
Memungkinkan suatu situasi dimana pasien dapat merasakan nilai hubungan sesuai pandangan/persepsinya terhadap situasi. Fase ini merupakan inti hubungan dalam proses interpersonal.

 Fase resolusi
Secara bertahap pasien melepaskan diri dari perawat. Resolusi ini memungkinkan penguatan kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan menyalurkan energi kea rah realisasi potensi.

Keempat fase tersebut merupakan rangkaian proses pengembangan dimana perawat membimbing pasien dari rasa ketergantungan yang tinggi menjadi interaksi yang saling tergantung dalam lingkungan sosial.

Perawat mempunyai 6 peran sebagai berikut :

 Orang asing ( stranger ) berbagi rasa hormat dan minat yang positif pada pasien. Perawat menghadapi klien seperti tamu yang dikenalkan pada situasi baru.

 Nara sumber ( resources person ) memberikan jawaban yang spesifik terhadap pertanyaan tentang masalah yang lebih luas dan selanjutnya mengarah pada area permasalahan yang memerlukan bantuan.

 Pendidik ( teacher ) merupakan kombinasi dari semua peran yang lain

 Kepemimpinan ( leadership ) mengembangkan hubungan yang demokratis sehingga merangsang individu untuk berperan

 Pengasuh pengganti ( surrogate ) membantu individu belajar tentang keunikan tiap manusia sehingga dapat mengatasi konflik interpersonal.

 Konselor ( consellor ) meningkatkan pengalaman individu menuju keadaan sehat yaitu kehidupan yang kreatif, konstruktif dan produktif.



9. FLORENCE NIGHTINGALE 1895

Keperawatan adalah suatu proses menempatkan pasien dalam kondisi paling baik untuk beraktivitas yaitu lingkungan yang sehat dan udara yang bersih.



10. LEVINE

Keperawatan adalah bagian budaya yang direfleksikan dengan ide-ide dan nilai-nilai , dimana perawat memandang manusia itu sama, merupakan suatu rangkaian disiplin dalam menguasai organisasi atau kumpulan yang dimiliki individu dalam menjalin hubungan manusia sekitarnya.
Intisari dari keperawatan adalah manusia.

Asumsinya bahwa definisi teori tersebut adalah sebagai berikut :
o Kondisi
Klien memasuki system pelayanan kesehatan dalam bagian penyakit atau perubahan kesehatan.
o Responsibilitas tanggung jawab
Perawat bertanggung jawab dalam mengenal respon (perubahan tingkah laku atau tingkat fungsi tubuh ) sebagai adaptasi klien atau usaha untuk beradaptasi terhadap lingkungan.
4 respon antara lain :
 Rasa takut
 Stress
 Inflamasi
 Sensorio

Fungsi
Fungsi perawat memasukkan intervensi untuk meningkatkan adaptasi terhadap penyakit dan evaluasi intervensi sebagai support (dorongan) atau terapeutik koping. Intervensi membantu mempertahankan status kesehatan dan mencegah penyakit lebih lanjut. Intervensi terapeutik meningkatkan penyembuhan dan pemulihan kesehatan.

4 prinsip perlindungan yang mendorong tujuan perawatan untuk mempertahankan atau memulihkan seseorang ke status kesehatan :

 Perlindungan terhadap energi
Keseimbangan intake dan output energi untuk mencegah kelelahan
 Perlindungan terhadap integritas struktur
Mempertahankan atau pemulihan struktur tubuh (penyembuhan )
 Perlindungan terhadap integritas personal
Mempertahankan atau pemulihan rasa identitas dan harga diri (mengenali kualitas diri)
 Perlindungan terhadap integritas sosial
Memperkenalkan klien sebagai suatu makhluk sosial khususnya dengan orang lain.

Teori Levine berfokus pada satu orang klien, teori ini mempunyai implikasi utama dalam pengaturan perawatan akut, dimana intervensi dapat bersifat mendorong atau terapeutik.


11. JEAN ORLANDO 1961


Keperawatan berlandaskan teori hubungan interpersonal yang menitikberatkan pada sifat unik individu atau klien dalam ekspresi verbal yang mengisyaratkan adanya kebutuhan dan cara-cara memenuhi kebutuhan.

Teori Jean Orlando mengandung konsep kerangka kerja untuk perawat professional yang mengandung 3 elemen yaitu : perilaku klien, reaksi dan tindakan keperawatan , mengubah situasi perawat setelah perawat memperkirakan kebutuhan klien , perawat mengetahui penyebab yang mempengaruhi derajat kesehatan , lalu bertindak secara spontan atau berkolaborasi untuk memberikan pelayanan kesehatan.


12. JEAN WATSON 1979

Keperawatan adalah filsafat dalam usaha merawat untuk memberi definisi hasil tindakan keperawatan dengan memperhatikan aspek humanistic dalam kehidupan.
Tindakan keperawatan diarahkan pada pemeliharaan hubungan timbal balik dalam kesehatan. Sakit dan perilaku.

Perawat berkonsentrasi pada peningkatan kesehatan mempertahankan suatu kesehatan dalam pencegahan penyakit.

Model Jean Watson ini bentuk proses perawatannya menolong klien untuk mencapai atau memelihara kesehatan atau mati dengan tenang.

Tindakan berhubungan dengan proses perawatan manusia, penguasaan ilmu pengetahuan adalah utama dalam memberikan tindakan perawatan megenai perilaku manusia dan respon menusia untuk menentukan masalah yang nyata atau potensial kebutuhan klien.

NILAI DAN KEYAKINAN

 NILAI
o Perawatan mempunyai faktor yang unik
o Perawatan adalah pelayanan yang diberikan secara langsung terhadap orang sakit atau sehat, kelompok, keluarga dan masyarakat
o Perawatan menggunakan proses untuk melakukan rencana perawatan
o Perawatan meliputi hubungan interpersonal yang berkelanjutan, hubungan perawat dan klien merupakan hubungan yang sangat penting.

 KEYAKINAN
o Persyaratan dasar pikiran atau anggapan terhadap konsep mengenai keperawatan
o Setiap keyakinan model keperawatan merupakan inti dari keperawatan
o Keyakinan ditransfer dari teori scientik atau praktek dan salah satu hasil dari penelitian.
o Keyakinan sebagian besar adalah satu model dengan model yang lainnya. Contoh : keyakinan mengenai manusia atau klien sangat berbeda.

Henderson melihat klien mempunyai kebutuhan dasar sedangkan Roy menjadikan 4 model penyesuaian.

 TUJUAN
o Meningkatkan kemampuan klien untuk berperan aktif dalam mencapai kesehatan yang optimal
o Membantu klien dalam perawatan untuk menuju kesehatan yang optimal atau meninggal dengan tenang.
o Menolong klien untuk mendapatkan primary, secondary dan tertiary prevention